Tantrum Episode : Tantrum Kasarung

Semalam mami berusaha untuk mengatur ulang isi lemari Ahsan. Saat mami memilih dan mengelompokkan baju Ahsan ke dalam kategori “current” dan “past”, wow, baru deh terlihat jelas bahwa ternyata Ahsan sudah buesssarrr :). Yah, gimana sih Mami, jelas dong sudah besar, karena sudah memasuki 22 bulan, sudah hampir lengkap giginya, dan yang jelas, sudah punya kemauan sendiri. Yah, habisnya bagi Mami, semuanya selalu terasa bagai sekedar “kemarin”. Baru “kemarin” Ahsan lahir dan tidak henti-henti menangis, tahu-tahu sekarang sudah bisa naik sepeda sendiri. Nangis sih masih, tambah kenceng dan heiboh pula :).

Ngomong-ngomong soal memiliki kemauan sendiri, semenjak beberapa minggu lalu Ahsan memang sudah terlihat memiliki kemauan yang keras. Beruntung jika kemauan itu sedang berada pada tempatnya, mami tenang dan senang. Namun jika sedang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi, waduh, Mami harus cepat mengalihkan perhatiannya ke hal lain yang menarik dan tidak berbahaya maupun bertentangan dengan peraturan sehari-hari (pusing gak siy, harus menemukan hal yang tepat dalan hitungan detik). Karena seperti sudah ditebak, jika cinta ditolak dukun bertindak, alias jika tidak terturuti, Mami pasti terkena protes keras, yang jika tidak segera ditindak lanjuti dengan cermat akan berubah menjadi sebuah histeria yang entah kapan berakhirnya ;).

Gak usah jauh-jauh, kemarin sore Mami harus meninggalkan Ahsan yang sedang tidur untuk pergi belanja sabun dan diapers. Sepulang berbelanja, rumah sepi dan terkunci, setelah dicari-cari ternyata Ahsan sedang bertandang ke rumah Mas Rafi. Begitu melihat Mamy, tidak lain tidak bukan, Ahsan langsung minta digendong dan minum susu. Sambil menggendong, ditengah rengekan untuk segera minum susu, Mamy menyempatkan menyambar pakaian ganti dari keranjang, yang bisa disambar adalah sebuah kaus dan celana pendek kotak-kotak. Mami menurunkan Ahsan di lantai kamar, untuk kemudian bergegas mencuci tangan dan berganti baju. Ahsan alhamdulillah belum melontarkan protes atas delay minum susu yang dihadapinya. Mami terus bicara menerangkan kegiatan yang dilakukan “Ahsan, mami cuci tangan, ganti baju dan pakai celana pendek, nih lihat, seperti punya Ahsan kan”. Tak dinyana, begitu kalimat selesai diucapkan, terdengar amukan keluar dari mulut mungilnya, “buka bukaaaa … pakeeee pakeeee”. Aduh apa lagi ini, mana Mami masih ngos-ngosan habis turun dari ojek dan belum sempat minum. Ahsan terus protes dengan gaya cemberut khasnya, sambil menunjuk-nunjuk ke pakaian yang Mami pakai. Ditawarin minum susu gak mau, dibuka celananya juga masih salah. Dari kalimat-kalimat yg diutarakannya, lama-lama Mami menduga bahwa Ahsan menginginkan celana pendek yang Mami pakai. Hmm, OK, no problem, tapi gimana caranya memberikan celana itu tanpa membuat dia berpikir bahwa Mami memberikannya karena ia berteriak-teriak dan merajuk. Semua akal digunakan untuk mengalihkan, telepon eyang, lihat bulan (untung sudah muncul walau masih jam 5, thanks bulan!), belalang dsb, tidak berhasil, akhirnya Mami ajak dia ke dapur untuk sekalian menyiapkan spageti untuk makan malam. Voila! Berhasil! Akhirnya ia mau sibuk meletakkan panci kecilnya ke atas kompor (tentu tidak menyala), dan kemudian mau duduk dengan tenang di atas meja dapur. Fiuhhh. Mami langsung mengalihkan tanggung jawab penjagaan ke Mbak Sri, karena belum sholat Ashar! Sambil buru-buru juga mengganti celana pendek kotak-kotak tersebut dengan celana lain.Beres!.

Menjelang Magrib, eyang datang, Ahsan pun langsung bermain dengan eyangnya, dan mami meneruskan memasak. Gak lama, Ahsan masuk bersama Eyang, ternyata celananya basah akibat main air. Mami sudah membayangkan episode tantrum yang mungkin akan terjadi ketika harus memakaikan diapers sehingga menyiapkan dua pilihan alternatif, celana kain Ahsan dan diapers. Selesai bersih-bersih di kamar mandi, Mami kasih penawaran ke Ahsan, celana kain atau diapers. Ahsan berteriak “celana… lana..!” Hm, ok, Mami siap-siap mau memakaikan celana, wah tapi ternyata kok dia tidak mau! Sambil terus mengeluarkan protesnya, ia menunjuk ke suatu arah. Mami melihat ke arah itu dan oh My, ternyata yang ditunjuk teuteuup celana pendek kotak-kotak Mami! Kebetulah Mami tadi lipat dan taruh di atas tempat tidur. Kok dia liat ya, padahal matanya tidak sedikitpun melirik ke situ tuh tadi. OK, I said, you want this? OK as u have stopped screaming then u got it. Mami pakaikan celana pendek itu ke pinggang Ahsan. Haha, look, his hips is only half of mine! Diiringi senyum tersembunyi dari Eyangnya dan ucapan keheranan dari Mbak Sri, Mami menambahkan peniti ke pinggang celana pendek itu. Done deal! Jadilah celana pendek kotak-kotak itu menjadi “sarung” di badan ahsan. Senyum kebanggaan terpancang di wajah mungilnya. “Oalah Saan, dari tadi nangis-nangis itu mau make ini toh” kata Mbak Sri, “Iya, inilah penyebab eyang harus datang kesini” tambah Mami. “Kalau langsung dikasih pas dia nangis tadi, pasti besok-besok nangisnya tambah”. Eyangnya nambahin “Kayak sarung San”. Dengar kalimat “sarung” langsung dia mengambil sikap, mengangkat tangannya sebagian, kemudian berujar “Alooo Abaaa” hekeke. Mau sholat ya Nak? Iya deh, nih pakai peci dan ini sajadahnya. Sibuk deh kemudian dia komat-kamit, nungging-nungging, bersedekap dan mengulang-ulang kalimat “Alooo Abaa” sampai ia memutuskan untuk bosan .

April 29, 2007. Daily Affairs, Milestones.

One Comment

  1. bahtiar replied:

    :)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback URI

%d bloggers like this: